Sabtu, 09 Februari 2013

SANTA LUCY

Dari : Sajak-sajak Spiritual
Karya : Ki AHA

SANTA LUCY

Santa Lucy berkerudung putih
Mematung bisu pada altar katedral yang sepi

Kau layangkan khayalmu
Menggapai bayang-bayang cintaku

Tapi kau tak terpanggil
Tatkala cintaku memanggil

Kau biarkan air matamu jatuh
Demi mengurapi palang di dadamu

Santa Lucy berjubah putih
Kau bukan lagi pengikut cinta

Aug 1987

Kamis, 31 Januari 2013

MORFINIS

Dari : Sajak-sajak Spiritual
Karya : Ki AHA

MORFINIS

Laki-laki kurus berhati lurus
Duduk sabar
Bersandar dekat dukbar
Matanya kosong
Menyelam dalam kolong surau
Mulutnya senyum tertahan
Meneguk tetes-tetes khayal
Hingga nafsunya menguap
Emosinya lenyap
Dan hidup terasa tak indah lagi

Maret 89

Kamis, 24 Januari 2013

ZIARAH


Karya : Abdul Haras Aboka (Sang Pawang Para Arwah)


Tebaran harum cempaka yang baru saja bermekaran, meyambutku tatkala aku menapakkan kakiku ke atas gundukan tanah ini.  Akupun bersungkur dalam keheningan menggapai nisan dan membawanya ke dalam pelukanku yang erat.  Titik titik embun pada lumutan nisan terasa menyusup dalam dadaku menambah kerinduanku pada sosok Zhenta yang kini tinggal kerangka terbaring dalam pusara yang dalam.  Kerinduanku pada serpihan cinta yang ikut terbenam bersama balutan kafan.  Kerinduanku pada kenangan yang kini telah tersekat oleh tirai alam.
Abdul Haras Aboka kekasihku, berdo’alah atas nama Zat yang kau yakini jika aku tidak sedang bersamamu dengan sebenar-benar do’a yang kau ucapkan lewat getar jarimu yang khusyuk demi cinta yang tetap berselimutkan sutra.  Karena do’a yang merambat lewat jari-jari tanganmu yang kau tadahkan, lebih baik dari alunan balada yang kau dendangkan.  Getar-getar do’amu yang ikhlas akan menyentuh setiap serpihan hatiku yang akan terlepas dari kasat matamu.
Aku tercenung pada bisikan terakhir Zhenta, sesaat, sebelum Malaikat Sakratul Maut merentangkan selendang sutranya atas leher Zhenta yang kaku.
Tanganku menjamah jemari Zhenta dan menghimpunnya dalam genggaman di atas dadanya.  Tak terasa lagi titik-titik kehidupan dalam lentik jemarinya yang rapuh.  Zhenta…kuatkanlah hatimu……..sebutlah nama Tuhanmu.  Aku membisikkan sebait puisi dekat mulutnya.  Wajah Zhenta yang pasi nampak tak mempunyai kekuatan apa-apa lagi.  Hanya ada guratan senyum kepasrahan yang mengembang lewat getar-getar bibirnya.  Sebutir air bening berderai dari cekung matanya yang semakin sayu, semakin redup, semakin mengatup.  Aku menatap lekat mata itu, tak ada lagi bayang-bayang diriku dalam tabir matanya.  Ya, Malaikat Sakratul Maut telah memberikan aba-aba….Laa ila…ha…ilallah….Laa…….ila…ha……i….lallah…..Aku menuntun kepergian angin suci yang satu-satu meninggalkan hidungnya, hingga terdengar kibasan selendang Malaikat yang maha lembut, menjemput kepergian angin suci yang terakhir…..
Aku tersentak dari kenangan pekat jiwaku.  Merinding buluromaku, membesar kepalaku, menangis hatiku.  Jiwaku meraung-raung dalam kepiluan yang menggigit.  Oh, Tuhanku….peristiwa yang mencekam itu tetap menyatu dalam jiwaku.  Oh…mengapa kesetiaanku tetap terpatri pada burung dara yang telah berlalu dari alam fana ini.  Adalah kau Zhenta yang telah pergi selama-lamanya.
Tapi, tidak……tidak…….aku tidak boleh pinsan.  Aku harus tegar menghadapi kenyataan atas pekerjaan tangan Yang Maha Gaib yang telah memetik kembali arwah yang dititipkan lewat jasad Zhenta.  Setiap makhluk yang bernyawa akan mengalami keajaiban serupa.  Apabila maut telah tiba, dan Malaikat Sakratul Maut menunaikan amanah Tuhannya, maka tak ada satu kekuatanpun yang berhak memajukan atau memundurkan sedetik jua, kecuali manusia pasrah melambai-lambaikan tangannya membiarkan selendang sang Malaikat membalut arwahnya keluar dari dosa kasat tubuhnya.
Hanya makhluk yang takwa, yang mengisi lembaran hidupnya dengan amalan sholih, dan menjaga cintanya atas cinta para janda dan perawan muda, mereka akan sabar menanti apa yang akan terjadi di alam fana ini.  Dan kematian yang mereka hadapi adalah sentuhan lembut selendang Malaikat, selembut sutra.  Sedang makhluk yang serakah, yang tega menangsa sesamanya, arwah mereka akan terdepak keluar bersama hentakan selendang Malaikat yang maha dahsyat. Kematian bagi mereka adalah tragedi yang menyiksa.
Dan kematian Zhenta adalah bijaksana dilihat dari sudut pandang para aulia.  Karena kematian seorang perawan muda yang mengemban cinta adalah lebih mulia dari pada kematian seorang perawan tua yang tidak pernah merasakan nikmatnya cinta.  Cinta bagi seorang perawan tua laksana gesekan angin malam yang menghempas bunga melati, takut hidup mati tak jadi.  Cinta bagi seorang perawan muda laksana semerbak bunga mawar, harum mewarnai bumi.
Oh Zhenta Moningka…..mengapa hari-hari indah itu telah berlalu….berlalu bagai bayang-bayang arwahmu, tiap kali dipegang, tiap kali menghilang.  Kutahu sayang.  Kau telah tiada.  Kau tinggal tulang belulang berselimutkan cabikan kafan dalam pusara nan bisu.  Namun, ketiadaan dirimu, bukan berarti akhir dari cintamu.  Kepergian dirimu hanyalah kehilangan jasad yang akan terus digiling oleh tongkat Malaikat hingga remuk seremuk debu.  Dan hanyalah arwahmu sebagai jawaban atas cinta yang terseimpan di dalam kuburan.
Walau kini kita telah tersekat oleh alam, dan terpisah antara sendi-sendi kehidupan, tetaplah mencintaiku, walau dalam kepapahan, dan himpitan nisanmu.  Kaitlah selalu jemari jiwaku, dan setiap kali aku datang menjengukmu menyatulah dalam arwahku yang kudus.
Terjadilah keajaiban yang sejati.  Tak ada yang mampu merintangi pekerjaan tangan-tangan Malaikat.  Dan atas izin Zat yang aku yakini yang berkehendak pada setiap detak jantung makhluk bernyawa.
Oh, Zhenta….Bisikkanlah do’a dalam bahasa puisi, karena getar-getar sajakmu akan merambat lewat pori-pori pusara.  Bisikkanlah bahwa cintaku-cintamu akan tetap menyatu.  Karena cinta adalah pekerjaan Ilahiah yang harus dijamah lewat tangan-tangan naluri yang tak terpegang oleh mata.  Setiap jasad yang bernyawa memiliki pasangan pasangan jiwa.  Tanpa raga jiwa akan mengembara kemana-mana mencari pasangannya yang terpisah.
Insan yang bernyawa dikaruniai panca indera.  Masing-masing panca indera memiliki rasa yang berbeda.  Demikianlah cinta.  Kepahitan dan kegetiran adalah bunga-bunga tanpa warna yang menyakitkan para lebah.  Sedangkan kebahagiaan adalah sisa-sisa senyuman yang terbawa tatkala Adam dan Hawa meninggalkan surga.
Cinta yang sejati adalah percikan malam pertama yang membakar jasad sepasang remaja.  Cinta berjalan sambil berjoget pada rel-nya yang sejati.  Ia bernyanyi dan hinggap dalam setiap episode sejarah manusia.  Oleh sebab itu nikmatilah, karena cinta adalah karunia yang telah diatur oleh Zat Maha Kuasa sebagai cikal bakal dosa.  Barang siapa mengakhiri cinta yang tak pernah terdefinisikan sejak manusia pertama Adam dan Hawa, maka adalah ia dalam kesesatan yang nyata.
Demi senja yang berselimutkan awan merah, adalah gambaran sempurna kisah cinta kita yang pertama.  Maafkanlah aku Zhenta.  Aku tidak bermaksud mengusik ketentraman jasadmu, tetapi adalah janji kita bahwa cinta akan merambat dimana air tak bias merayap.
Hai Arwah yang teguh kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang dan penuh keridhaan…..Biarlah aku disini.  Dan dalam kesendirian jiwaku, aku akan menempuh hidup, bagai kehidupan pohon cempaka yang setia menjagamu.*** Juni ‘91




Rabu, 26 Desember 2012

TSUNAMI

Dari : Sajak-sajak Spiritual
Karya : Ki AHA



TSUNAMI

Ombak berdesak-desak
Bergelombang-gelombang menguntai
Bagai lidah-lidah menggapai

Ombak mendangkak-dangkak
Bertumpang-tumpang terberai
Bagai jari-jari sang dewi melambai

Ombak mengepak-ngepak
Bergoyang-goyang gemulai
Bagai penari-penari pantai

Namun ombak menjadi muak
Menyemburkan kiat amanat

Ombak mengamuk menghantam tanjung
Mengguncang-guncang karang
Tebing-tebingpun luluh takluk

Ombak mengamuk menggilas pukat
Menggerus-gerus darat
Genteng-gentengpun turun mencium laut

Ombak menyerbu bagai prahara
Menggusur martabat manusia serakah

Lalu Sunyi

Ombak bergulir sampai jauh
Tinggalkan puing-puing keangkuhan

Ombak kini berdebur syahdu
Bagai pentulan-pentulan dawai
Anak nelayanpun turun ke pantai
Memulai hidup baru

Juni 91

Sabtu, 03 November 2012

AUTOTOMI

Dari : Sajak-sajak Spiritual
Karya : Ki AHA

AUTOTOMI

Pupus sudah kontrak jiwa yang aku emban
Dan hak hidupku berlalu
Kini tubuhku terlepas
Atas demokrasi penuh debu
Merintih tanpa tangis
Menggelepar tanpa jiwa
Lalu sunyi
Menanti pesta pora semut merah