Karya : Abdul
Haras Aboka (Sang Pawang Para Arwah)
Tebaran harum cempaka yang baru
saja bermekaran, meyambutku tatkala aku menapakkan kakiku ke atas gundukan
tanah ini. Akupun bersungkur dalam
keheningan menggapai nisan dan membawanya ke dalam pelukanku yang erat. Titik titik embun pada lumutan nisan terasa
menyusup dalam dadaku menambah kerinduanku pada sosok Zhenta yang kini tinggal
kerangka terbaring dalam pusara yang dalam.
Kerinduanku pada serpihan cinta yang ikut terbenam bersama balutan kafan. Kerinduanku pada kenangan yang kini telah
tersekat oleh tirai alam.
Abdul Haras Aboka kekasihku,
berdo’alah atas nama Zat yang kau yakini jika aku tidak sedang bersamamu dengan
sebenar-benar do’a yang kau ucapkan lewat getar jarimu yang khusyuk demi cinta
yang tetap berselimutkan sutra. Karena
do’a yang merambat lewat jari-jari tanganmu yang kau tadahkan, lebih baik dari
alunan balada yang kau dendangkan.
Getar-getar do’amu yang ikhlas akan menyentuh setiap serpihan hatiku
yang akan terlepas dari kasat matamu.
Aku tercenung pada bisikan terakhir
Zhenta, sesaat, sebelum Malaikat Sakratul Maut merentangkan selendang sutranya
atas leher Zhenta yang kaku.
Tanganku menjamah jemari Zhenta dan
menghimpunnya dalam genggaman di atas dadanya.
Tak terasa lagi titik-titik kehidupan dalam lentik jemarinya yang
rapuh. Zhenta…kuatkanlah
hatimu……..sebutlah nama Tuhanmu. Aku
membisikkan sebait puisi dekat mulutnya.
Wajah Zhenta yang pasi nampak tak mempunyai kekuatan apa-apa lagi. Hanya ada guratan senyum kepasrahan yang
mengembang lewat getar-getar bibirnya.
Sebutir air bening berderai dari cekung matanya yang semakin sayu,
semakin redup, semakin mengatup. Aku
menatap lekat mata itu, tak ada lagi bayang-bayang diriku dalam tabir
matanya. Ya, Malaikat Sakratul Maut
telah memberikan aba-aba….Laa ila…ha…ilallah….Laa…….ila…ha……i….lallah…..Aku
menuntun kepergian angin suci yang satu-satu meninggalkan hidungnya, hingga
terdengar kibasan selendang Malaikat yang maha lembut, menjemput kepergian
angin suci yang terakhir…..
Aku tersentak dari kenangan pekat
jiwaku. Merinding buluromaku, membesar
kepalaku, menangis hatiku. Jiwaku
meraung-raung dalam kepiluan yang menggigit.
Oh, Tuhanku….peristiwa yang mencekam itu tetap menyatu dalam
jiwaku. Oh…mengapa kesetiaanku tetap
terpatri pada burung dara yang telah berlalu dari alam fana ini. Adalah kau Zhenta yang telah pergi
selama-lamanya.
Tapi, tidak……tidak…….aku tidak
boleh pinsan. Aku harus tegar menghadapi
kenyataan atas pekerjaan tangan Yang Maha Gaib yang telah memetik kembali arwah
yang dititipkan lewat jasad Zhenta.
Setiap makhluk yang bernyawa akan mengalami keajaiban serupa. Apabila maut telah tiba, dan Malaikat
Sakratul Maut menunaikan amanah Tuhannya, maka tak ada satu kekuatanpun yang
berhak memajukan atau memundurkan sedetik jua, kecuali manusia pasrah
melambai-lambaikan tangannya membiarkan selendang sang Malaikat membalut
arwahnya keluar dari dosa kasat tubuhnya.
Hanya makhluk yang takwa, yang
mengisi lembaran hidupnya dengan amalan sholih, dan menjaga cintanya atas cinta
para janda dan perawan muda, mereka akan sabar menanti apa yang akan terjadi di
alam fana ini. Dan kematian yang mereka
hadapi adalah sentuhan lembut selendang Malaikat, selembut sutra. Sedang makhluk yang serakah, yang tega
menangsa sesamanya, arwah mereka akan terdepak keluar bersama hentakan
selendang Malaikat yang maha dahsyat. Kematian bagi mereka adalah tragedi yang
menyiksa.
Dan kematian Zhenta adalah
bijaksana dilihat dari sudut pandang para aulia. Karena kematian seorang perawan muda yang
mengemban cinta adalah lebih mulia dari pada kematian seorang perawan tua yang
tidak pernah merasakan nikmatnya cinta.
Cinta bagi seorang perawan tua laksana gesekan angin malam yang
menghempas bunga melati, takut hidup mati tak jadi. Cinta bagi seorang perawan muda laksana
semerbak bunga mawar, harum mewarnai bumi.
Oh Zhenta Moningka…..mengapa
hari-hari indah itu telah berlalu….berlalu bagai bayang-bayang arwahmu, tiap
kali dipegang, tiap kali menghilang. Kutahu
sayang. Kau telah tiada. Kau tinggal tulang belulang berselimutkan
cabikan kafan dalam pusara nan bisu.
Namun, ketiadaan dirimu, bukan berarti akhir dari cintamu. Kepergian dirimu hanyalah kehilangan jasad
yang akan terus digiling oleh tongkat Malaikat hingga remuk seremuk debu. Dan hanyalah arwahmu sebagai jawaban atas
cinta yang terseimpan di dalam kuburan.
Walau kini kita telah tersekat oleh
alam, dan terpisah antara sendi-sendi kehidupan, tetaplah mencintaiku, walau
dalam kepapahan, dan himpitan nisanmu.
Kaitlah selalu jemari jiwaku, dan setiap kali aku datang menjengukmu
menyatulah dalam arwahku yang kudus.
Terjadilah keajaiban yang
sejati. Tak ada yang mampu merintangi
pekerjaan tangan-tangan Malaikat. Dan atas
izin Zat yang aku yakini yang berkehendak pada setiap detak jantung makhluk
bernyawa.
Oh, Zhenta….Bisikkanlah do’a dalam
bahasa puisi, karena getar-getar sajakmu akan merambat lewat pori-pori
pusara. Bisikkanlah bahwa
cintaku-cintamu akan tetap menyatu.
Karena cinta adalah pekerjaan Ilahiah yang harus dijamah lewat
tangan-tangan naluri yang tak terpegang oleh mata. Setiap jasad yang bernyawa memiliki pasangan
pasangan jiwa. Tanpa raga jiwa akan
mengembara kemana-mana mencari pasangannya yang terpisah.
Insan yang bernyawa dikaruniai
panca indera. Masing-masing panca indera
memiliki rasa yang berbeda. Demikianlah
cinta. Kepahitan dan kegetiran adalah
bunga-bunga tanpa warna yang menyakitkan para lebah. Sedangkan kebahagiaan adalah sisa-sisa
senyuman yang terbawa tatkala Adam dan Hawa meninggalkan surga.
Cinta yang sejati adalah percikan
malam pertama yang membakar jasad sepasang remaja. Cinta berjalan sambil berjoget pada rel-nya
yang sejati. Ia bernyanyi dan hinggap
dalam setiap episode sejarah manusia.
Oleh sebab itu nikmatilah, karena cinta adalah karunia yang telah diatur
oleh Zat Maha Kuasa sebagai cikal bakal dosa.
Barang siapa mengakhiri cinta yang tak pernah terdefinisikan sejak
manusia pertama Adam dan Hawa, maka adalah ia dalam kesesatan yang nyata.
Demi senja yang berselimutkan awan
merah, adalah gambaran sempurna kisah cinta kita yang pertama. Maafkanlah aku Zhenta. Aku tidak bermaksud mengusik ketentraman
jasadmu, tetapi adalah janji kita bahwa cinta akan merambat dimana air tak bias
merayap.
Hai Arwah yang
teguh kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang dan penuh keridhaan…..Biarlah
aku disini. Dan dalam kesendirian
jiwaku, aku akan menempuh hidup, bagai kehidupan pohon cempaka yang setia
menjagamu.*** Juni ‘91